
Tim PKM FK Untan Hadirkan SABUK, Buku Pendamping yang Menjadi Sahabat bagi Pejuang Kanker Payudara
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura kembali menorehkan prestasi membanggakan di tingkat nasional. Tim mahasiswa yang terdiri dari Miqho Ozora Marsanso, Aisyah Nasywa Ula, Muhammad Toga Setiawan, Adinda Aisyah Nindyani, dan Muhammad Iqbal Renaldi S., di bawah bimbingan dr. Sari Eka Pratiwi, M.Biomed., berhasil lolos pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang diselenggarakan oleh Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek). Dari lebih dari 33.000 proposal yang diajukan oleh mahasiswa di seluruh Indonesia, tim FK Untan menjadi salah satu dari 1.000 proposal terpilih yang memperoleh pendanaan resmi.
Bidang yang diikuti oleh tim ini adalah PKM Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH), yang merupakan wadah bagi mahasiswa untuk meneliti berbagai fenomena sosial dan kemanusiaan dengan pendekatan ilmiah. Melalui PKM-RSH, mahasiswa didorong untuk mengkaji isu-isu sosial, budaya, ekonomi, dan kesehatan dari sudut pandang ilmiah sekaligus solutif. Program ini juga menjadi bagian dari upaya penguatan kompetensi mahasiswa dalam menghadapi tantangan era Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), di mana kolaborasi lintas bidang dan empati terhadap masyarakat menjadi pondasi utama pembelajaran. Keberhasilan ini tidak hanya mencerminkan kualitas akademik, tetapi juga semangat pengabdian dan kepedulian sosial mahasiswa FK Untan terhadap isu-isu kemanusiaan.
Inovasi yang dihasilkan adalah SABUK (Sahabat Pejuang Kanker Payudara), sebuah program berbasis pendekatan psikososial yang diwujudkan dalam bentuk buku pendamping bagi para pasien kanker payudara di RSUD dr. Soedarso Kota Pontianak. Buku ini dirancang sebagai sarana edukatif sekaligus suportif yang membantu pasien memahami perjalanan pengobatan mereka dengan cara yang lebih hangat, manusiawi, dan penuh semangat. Isi dari buku SABUK meliputi cerita informasi medis yang mudah dipahami, ruang refleksi diri, hingga aktivitas positif yang mendorong kesehatan mental dan spiritual pasien. Pendekatan ini lahir dari kesadaran bahwa proses penyembuhan kanker tidak hanya bergantung pada terapi medis, tetapi juga pada dukungan emosional dan lingkungan sosial yang kondusif.
Program ini mendapatkan respon yang sangat positif dari pasien kanker payudara maupun dari pihak rumah sakit. Para pasien merasa terbantu dengan adanya buku pendamping ini, karena SABUK menjadi teman yang memahami perjuangan mereka, memberi kekuatan baru saat menghadapi efek samping pengobatan maupun rasa cemas yang sering muncul selama proses terapi. dr. Eko Rustianto Suhardiman, M.Si.Med., Sp.B(K)-Onk, FINACS, selaku Dokter Spesialis Bedah Onkologi sekaligus Wakil Direktur Pelayanan dan Keperawatan RSUD dr. Soedarso, menyampaikan apresiasi yang mendalam terhadap karya mahasiswa FK Untan ini.
“Saya sangat mengapresiasi karya ini, karena diciptakan oleh anak-anak muda Indonesia yang peduli pada kesehatan dan kemanusiaan. Saya yakin, SABUK akan menjadi langkah kecil yang berdampak besar, membantu pasien, keluarga, dan tenaga kesehatan dalam membangun semangat baru di tengah perjuangan,” ungkap dr. Eko.
Inovasi SABUK juga mendapat dukungan dan apresiasi dari berbagai pihak serta pemangku kepentingan di Kalimantan Barat, termasuk organisasi dan tokoh yang aktif dalam pemberdayaan masyarakat. Salah satunya adalah Dr. Dra. Hj. Yanieta Arbiastutie, Apt., MM., M.Sc., selaku Ketua KESATU (Kepedulian Saling Bantu) Kalimantan Barat sekaligus Ketua TP PKK Kota Pontianak. Dalam pertemuan rutin Pengurus PKK Kota Pontianak sekaligus kegiatan sosialisasi buku SABUK yang dilaksanakan pada Senin, 13 Oktober lalu, beliau menyampaikan bahwa karya ini menjadi percikan semangat baru bagi para pejuang kanker payudara serta contoh konkret bagaimana peran mahasiswa dapat menghadirkan solusi bagi persoalan kesehatan di masyarakat.
“SABUK bukan hanya sebuah buku, tetapi simbol empati, dukungan, dan harapan. Inisiatif ini menunjukkan bahwa generasi muda Kalimantan Barat memiliki kepedulian yang tinggi terhadap sesama. Saya berharap karya seperti ini terus dikembangkan dan diperluas dampaknya hingga menjangkau lebih banyak pejuang kanker di seluruh Indonesia,” ujarnya.
Melalui keberhasilan ini, Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura berharap agar SABUK dapat dikembangkan menjadi program berkelanjutan yang tidak hanya membantu pasien kanker payudara, tetapi juga menjadi inspirasi bagi riset-riset mahasiswa di bidang kesehatan mental dan dukungan psikososial. Prestasi ini menegaskan bahwa mahasiswa FK Untan tidak hanya berfokus pada aspek medis semata, tetapi juga memahami pentingnya pendekatan holistik terhadap kesehatan, mencakup aspek biologis, psikologis, sosial, dan spiritual.
Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura berkomitmen untuk terus mendukung pengembangan inovasi mahasiswa, memperkuat jejaring kolaborasi lintas sektor, serta menumbuhkan budaya riset yang berpihak pada kemanusiaan. Dengan semangat “Dari Kalimantan Barat untuk Indonesia”, karya SABUK menjadi bukti bahwa langkah kecil dari ruang belajar dapat menumbuhkan harapan besar bagi para pejuang kehidupan.



