Telepon : (0561) 765342, 583865, 732500

Peran Pendidik: Transformasi, Adaptasi dan Metamorfosis Dunia Pendidikan di Masa Pandemi Covid-19

By: Admin | Posted on: 2020-05-13

apt. Hadi Kurniawan, S.Farm., M.Sc.

 

Dosen Prodi Farmasi FK UNTAN

 

Apakah peran strategis guru dan dosen akan tergantikan teknologi ?

Sejak Covid-19 ditetapkan sebagai pandemi global dan BNPB menetapkan status darurat nasional, bahkan ditetapkan sebagai KLB di Kalbar, membuat Untan juga memberlakukan Bekerja dari Rumah (BDR) sejak Maret lalu. Hal tersebut membuat iklim pembelajaran yang semula didominasi klasikal menjadi non-klasikal atau dengan Pembelajaran Jarak Jauh.

Sebagaimana visi Rektor menjadikan Untan Cyber University, ternyata dengan adanya wabah ini mampu mempercepat proses perubahan iklim pembelajaran termasuk di universitas dan semua pihak dipaksa beradaptasi dengan cepat termasuk metode dan cara perkuliahan maupun praktikum. Semula rapat mesti tatap muka sekarangpun menjadi teleconference.

Faktanya tidak semua dosen berkesempatan mengikuti pelatihan e-learning yang diselenggarakan sebelumnya karena jumlah peserta yang mengikuti pelatihan terbatas. Kegiatan lanjut Untan sempat menyelenggarakan pelatihan TOT e-learning. Dimana para dosen yang menjadi peserta TOT diharapkan mampu menularkan kepada dosen lain diunitnya untuk melaksanakan dan menerapkan metode pembelajaran e-learning minimal 2 kali dari 14 - 16 kali jumlah tatap muka di kelas regular.

Namun ternyata kondisi pandemic membuat percepatan semua pihak untuk mengenal sistem perkuliahan daring yang sebelumnya cukup asing bagi semua pihak. Termasuk presensi digital yang belum diterapkan maksimal namun sejak terjadi BDR ini menjadi hal yang biasa dan mesti dilakukan sebagai pengganti Daftar Hadir Kuliah manual (DHK).

Kini pembelajaran yang biasanya on-site menjadi online. Biasanya tatap muka menjadi tatap layar. Semua interaksi menjadi serba digital. Jaringan internet dan tentunya keberadaan kuota menjadi tulang punggung semua proses tersebut. Kondisi Work from Home dan Study from Home memaksa semua pihak untuk berupaya memaksimalkan proses pembelajaran. Karena UFN alias menungggu sampai batas waktu yang tidak dapat ditentukan dengan pasti  kapan akan berakhir. Maka semua pihak harus memutar otak mancari cara menggunakan alternatif proses kegiatan belajar-mengajar yang dirasa terkesan “mendadak” serba digital. Siap tidak siap harus dihadapi. Waluapun di dunia pendidikan semestinya hal ini bukan hal baru, mungkin hanya saja kita yang terlambat mengetahui dan mengaplikasikan. 

Pendidik meyakini bahwa mahasiswa milenial tak asing dengan kehidupan serba digital bahkan sejak lahir sudah terpapar dengan teknologi digital ini, ternyata peserta didik sangat mudah beradaptasi. Bahkan dengan sendirinya mereka mampu menyelesaikan segala tugas dari gawai cerdas digenggaman. Justru tantangan ada para pendidik yang mesti segera beradaptasi dengan era digital.

Selaku pendidik ternyata kita harus menyadari bahwa kalaulah hanya ilmu yang ingin kita berikan kepada peserta didik, ternyata semua hal mereka bisa dapatkan dari genggaman tangan mereka dengan cepat. Semua informasi bisa mereka peroleh dari berselancar di mesin pencarian bahkan tutorial dan penjelasan materi, informasi dan gudang ilmu sangat terbuka luas di media social seperti youtube dan sebagainya.

Dahulu peserta didik mencatat di papan tulis lalu semua teman sekelas menyalin ke dalam buku catatan mereka. Catat Buku Sampai Habis. Guru ceramah panjang lebar, peserta mendengar sampai mengantuk. Zaman sudah berubah, maka cara mendidik perlu disesuaikan dengan era dan zamannya. Gap zaman pembelajaran antara peserta didik yang milenial dan pendidik yang merupakan imigran teknologi digital harus diminimalisir.

Tentunya harus menjadi renungan seorang guru dan dosen. Kalaulah sekedar pintar dan pandai, teknologi internet mungkin bisa jadi lebih pintar bahkan mampu menyajikan dan memberikan segala macam hal informasi yang dibutuhkan. Lalu apa peran pendidik yang membedakan dari gawai cerdas di genggaman mereka? Melalui gawai itu tampak lebih efektif. Bertanya kepada guru dan dosen tidak lagi menjadi pilihan, karna google dan search engine lain sepertinya lebih cepat menjawab. Benarkah sepenuhnya demikian?

Bagaimanapun ternyata peran guru dan dosen sesungguhnya tidak bisa digantikan dangan teknologi. Karena guru dan dosen bukan sekedar sumber ilmu pengetahuan, melainkan mesti menjadi contoh dan teladan yang mentransfer adab dan tata nilai. Keberadaan fisik seorang guru dan dosen tetap dibutuhkan oleh peserta didik dalam proses belajar mengajar karena fungsinya tidak hanya menyampaikan materi dan transfer ilmu namun mendidik karakter serta mengajarkan bagaimana memaknai dan menjalani hidup dengan lebih baik. Hal yang perlu direfleksikan, bahwa hal penting dalam hidup seperti tanggung jawab, kedisiplinan, rasa empati kepada orang lain, jujur, kerja keras, saling menghormati, mencintai sesama manusia, kesederhanaan, keikhlasan, dan lain-lain tidak bisa ditemukan bahkan dalam gawai yang smart sekalipun. Hal itu hanya didapat dari keteladanan dan pembiasaan karakter. Itulah peran sejati guru dan dosen yang di gugu dan ditiru yang tak mampu di gantikan oleh teknologi manapun.

Era digital ini justru sangat membutuhkan peran guru dan dosen dalam memfilter informasi kepada para peserta didik. Oleh karena itu, menjadi tantangan pendidik yang dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman terutama era digital ini membuka inovasi dalam mengajar. Pendidik mestinya tidak enggan dan segan untuk mencoba platform digital, melalui platform digital pembagian tugas menjadi semakin mudah dan juga menjadwalkan proses pembelajaran lebih mudah dengan adanya Learning Management System tersebut.

Peserta didik juga mudah mengaksesnya melalui jaringan media sosial yang sudah dibuat dalam platform digital tersebul. Mahasiswa merdeka belajar dari manapun dan kapanpun. Selain itu, dengan platform digital ini pemantauan kepada para peserta didik menjadi mudah termasuk dalam memantau aktivitas kelas, kedisiplinan mengumpulkan tugas, pencataan perkembangan peserta didik bahkan pengaturan deadline dan scoring dapat secara otomatis. Laporan tersebut akan tersimpan secara otomatis dalam drive online yang bisa diakses kapan dan dimana saja selama ada akses internet. Tentunya menghemat waktu, terutama paper less dalam pengumpulan tugas.

Menjadi pendidik di era digital menhadapi generasi milenial ini ditantang untuk membangun komunikasi yang efektif, tidak terlalu lama berbicara satu arah. Maka perlu mempersiapkan presentasi menjadi menyenangkan, desain yang menarik dan bahkan penampilan style fashion pun mesti tidak membosankan, formal namun casual sehingga lebih fresh turut menjadi tantangan. Selain menjadi praktis dan membangun komunikasi efektif selanjutnya adalah mesti memanfaatkan teknologi dimulai dari hal yang sederhana misalnya menggunakan daftar hadir / presensi digital otomatis, membagikan materi menggunakan platform berbasis teknologi cloud computing sehingga efektif untuk pengajaran dan memudahkan peserta didik berkomunikasi dengan pendidik. Selanjutnya perbanyak diskusi dengan membuat kelompok-kelompok kecil lalu diberikan pertanyaan menarik untuk didiskusikan bersama. Ini dapat diberikan setelah pendidik memberikan materi di awal kelas. Saat disuksi peserta didik diizinkan browsing dan berselancar terkait topik melalui sumber kredibel dan relevan. Menjadi tantangan untuk menciptakan interaksi antar peserta didik dan kelompok agar suasana diskusi menjadi lebih hidup. Tentunya hal ini juga untuk meningkatkan skill berbicara didepan orang banyak. Kemudian berikan contoh yang relevan agar membantu peserta didik mencerna materi lebih mudah.

Jadi, teknologi diciptakan untuk melengkapi dan membantu manusia dalam mengerjakan tugas dan tanggung jawabnya, namun bukan untuk menggantikan perannya secara keseluruhan apalagi guru dan dosen sang pendidik generasi yang berperan dalam pengajaran dan pendidikan.